Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerita Mistik Pendakian Gunung ! | Menuju Puncak Gunung Burangrang Cisarua Kabupaten Bandung

 

Pendakian Gunung

Pendakian Gunung Burangrang yang berada di Desa Kertawangi Kecamatan Cisarua Lembang Kabupaten Bandung Barat dengan ketinggian 2050 MDPL, untuk menuju ke gunung burangrang kita bisa dari arah Padalarang, Cimahi dan Dago, berada di kawasan SPN Polda Jabar Cisarua sebelah pintu masuk ada jalan tinggal mengikuti jalur saja, disarankan kalau mau menuju kesana menggunakan sepeda motor karena setelah melewati jalan besar kita akan melewati jalan perkampungan dengan hanya muat 1 mobil setengah, dan untuk parkirnya juga lumayan sulit. Untuk parkir motor kita masuk lagi ke tempat basecamp baru sebelumnya kita daftar dan parkir motor dipermukiman warga tapi saat ini sudah ada petugas yang berjaga di tempat pendaftarannya dan juga ada warung kelontong warga di tempat pendaftaran pendakian.

Untuk pendakian kali ini saya nyusul sendirian karena ada pengumupulan tugas kuliah yang tidak bisa ditinggalkan, 3 teman laki-laki saya dari Cianjur dan bergabung dengan 4 pendaki wanita dari Bandung sudah duluan melakukan pendakian pada jam 02.30 dari basecamp pendaftaran. Saya sampai ditempat basecamp pendaftaran pada jam 04.00 setelah melakukan proses pendaftaran lalu prepare peralatan langsung melakukan pendakian, karena sebelumnya saya pernah melakukan pendakian tektok ke Gunung Burangrang dengan teman kuliah jadi masih teringat jalur dan estimasi waktu dari basecamp ke puncaknya, saya sengaja suruh teman saya lakukan pendakian duluan karena ditakutkan tempat camping di puncak sana penuh dan tidak kebagian tempat camping, tempat camping di Gunung Burangrang kecil dan terbatas nanti repot apabila sudah penuh. Hanya saya ketika mulai pendakian pada jam 04.30 lebih tapi kata petugas disana sebelumnya ada 2 kelompok yang baru mendaki, mungkin apabila saya pendakiannya cepat bisa bertemu di jalur. 

Adzan magrib berkumandang dan saya istirahat sejenak dan masih belum menemukan rombongan yang mendaki didepan saya, setelah istirahat sejenak dan melanjutkan perjalanan karena lumayan ngeri apabila cuaca sudah sangat gelap tapi masih belum menemukan teman saya atau pendaki lain, nah setelah jalan beberapa menit saya menemukan rombongan pendaki dari daerah Bandung dan saling tegur sapa dan saya bertanya apa melihat 7 orang rombongan pendaki, mereka menjawab belum melewati atau terlewati para pendaki lain lalu saya menyalip dan langsung jalan kembali rombongan mereka juga menyarankan bareng aja karena cuaca gelap dan saya sendirian, tapi saya melanjutkan perjalanan karena pada saat istirahat saya berhasil menghubungi teman yang duluan, katanya masih dijalur dan tidak jauh dari Pos 3 dan mereka mau istirahat sambil menunggu saya. 

Cuaca sudah gelap dan saya menggunakan headlamp serta senter Handphone untuk berjaga-jaga apabila headlampnya mati, suasana sunyi dan gelap hanya ditemani pijakan kaki dan beberapa suara hewan malam. Saat perjalanan saya sering iseng matikan senter dan betapa gelap dan sunyinya jalur tanpa cahaya, lumayan ngeri juga apalagi ketika melewati pepohonan yang rimbun, saya berdoa sebelum pendakian dan selama perjalanan pendakian semoga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dari dhohir maupun batin, kurang lebih 1 jam setengah saya melewati gelap dan sunyinya jalur pendakian sambil sesekali berteriak memanggil rombongan teman saya yang didepan maupun rombongan yang tadi dibelakan, tapi tidak ada sahutan kembali mungkin  lumayan jauh dari rombongan yang belakang dan teman saya didepan, selama perjalanan itu perasaan sudah tidak karuan antara gas terus atau kembali kebelakang bareng sama rombongan yang tadi, karena cuaca sangat gelap dan sunyi tapi alhamdulillahnya tidak ada hal yang mengganggu selama perjalanan pendakian dan tidak berselang lama saya ketemu dengan rombongan teman saya, mereka sedang istirahat sambil melaksanakan sholat isya dan ada juga yang sedang menikmati secangkir kopi, saya ikut istirahat sejenak sebelum melakukan perjalanan kembali.

Karena rombongan kami ada 4 cewek ya perjalanan agak sering istirahat padahal saya juga kecapean sih sebelum bertemu sama rombongan saya gaspol terus, karena pendakian malam tidak ada yang saling mendahului dan saya berdua dibelakang dan 2 teman cowok saya didepan jadi yang ditengah pendaki cewek semua, setelah berjalan beberapa lama dan istirahat kembali akhirnya inisiatif 2 temen cewek saya untuk menyarankan ada yang duluan menuju puncak ditakutkan penuh posisi untuk mendirikan tendanya, setelah berdiskusi dua teman cowok saya duluan dan bertukar posisi lagi saya dibelakang dan teman saya lakek didepan.

Tidak lama kemudian ya hampi 20 menita ko temen saya pada berhenti dilahan yang lumayan luas dan kembali lagi kerombongan, mukanya agak sedikit khawatir dan saya coba bertanya kenapa ko engga jadi duluan ke atas, malah istirahat disini?. Mereka tidak menjawab dan hanya bilang "hayu buruah ulah lila teuing istirahatna puncak geus deket sigana" ( ayok cepet jangan terlalu lama istirahat, puncak sudah deket kayaknya) karena memang suara angin dan sudah terlihat di pinggir jalur kita sudah diketinggian, dan saya sudah merasa kayaknya ada yang tidak beres deh, dan memang benar kata teman saya setelah turun diceritakan bahwa pada saat didepan jalur si dimas melihat ada bayangan putih dekat pohon cukup jelas, dan setelah didekati ko bayangannya hilang akhirnya mereka milih maju lagi dan istirahat untuk bergabung kembali ke rombongan. 

Ya kurang lebih 1 jam setengah akhirnya kita melihat batu besar dan baru ingat bahwa itu sudah puncak pendakian dan ternyata memang benar setelah teman saya menyorot senter keatas ada beberapa pendaki lain yang menerikai ayo semangat, puncak udah dekat! ,akhirnya kita sudah sampai batu besar dan memang ada 2 tenda disini dekat tugu puncak para pendaki menyarankan terus saja kepuncan sebelah timur (kalau tidak salah) kayaknya disana ada lahan kosong, menurut mereka lumayan banyak yang melakukan pendakian saat itu. 

Mendirikan Tenda

Pendakian Gunung Lawu
Posisi Tenda 1

Sudah banyak berjejer tenda para pendaki, kami kesulitan untuk cari tempat lapak untuk 2 tenda dan akhirnya kami dapat lapak dibawah pohon hanya untuk 1 tenda dan tenda yang ke 2 maju lagi sedikit terhalang 1 tenda pendaki lain, posisi tenda 1 menurut saya spot terbaik karena lumayan datar dan dibawah pohon tapi kok kenapa tidak ada yang mengisi agak aneh, tanpa pikir panjang kami dirikan saja tendanya karena cuacanya juga sudah sangat malam dan dingin, setelah masak makanan dan sambil menikmati seduhan kopi kami semua tidur ke tenda masing-masing. 

Pada saat tidur teman saya mengalami mimpi buruk dan membangunan saya untuk hanya menemani tanpa menceritakan kenapa bisa bangun walaupun saya berkata, katanya dia mengalami mimpi mistis dan kena ereup-ereup ( ketika sudah agak sadar dari tidur, tapi tubuh tidak bisa bergerak ), saya hanya menemai dengan menikmati secangkir teh tarik dan tak lama kembali rebahan, tidak lama dari itu saya dan teman saya mendengar ada yang minta rokok kurang lebih pada jam 02.00 pagi, dan teman saya menjawab ada nih, cuma rokok djarum coklat enggak masalah? tapi setelah dijawab tidak ada yang merespon kembali. 

Pagi menjelang setelah menikmati suasana pagi hari lalu teman saya bertanya ke 2 tenda yang disebelah saya, kang malam minta rokok bukan? tapi dari tenda yang disebalah saya tidak ada yang mengaku, (teman saya berfikir positif saja, mungkin itu hanya guyonan ketika malam dari tenda sebelah). Dan samar terdengar perbincangan dari tenda sebelah yang sedang berbicang dengan temannya bahwa "beranian eta mendirikan tenda disitu sambil pasang hammock di pohon depannya, padahal dibawahnya ada kuburan". 

Pasang Dua Hammock 


Pendakian Gunung Horor

Pada jam 09.00 kami kembali packing untuk menuju basecamp, perjalanan pulang tidak terlalu lama karena terang hari dan beban carriel serta pijakan tidak terlalu berat. Jam 10.30 kami sudah sampai di tempat basecamp karena jalur pulang tidak barengan ada sebagian rombongan yang dibelakang, tidak lama semua sudah kumpul di basecamp istirahat sambil nyeduh kopi yang sisa kembali tidak berselang lama ada 2 orang anak yang menghampiri dan kami menawari kopi, ternyata 2 orang anak itu yang ibunya penjaga warung disana, kami berinisatif untuk menukarkan pop mie yang tersisa dengan nasi ke ibunya oleh si anak itu, dan siibupun memberi nasi awalnya sih siibu nolak untuk barter dengan pop mie, dan hanya ingin memberi nasi saja tanpa ada proses barter tapi kami merasa tidak enak ya akhirnya siibu menerimanya. 

Setelah selesai makan kami disarankan oleh si ibu penjaga warung untuk menikmati air terjun di sebelah timur dari basecamp, dan sianak bersedia mengantarnya. Pada saat diperjalanan cuaca mulai gelap dan akhirnya hujan, karena dari basecamp ke airterjun lumayan jauh katanya sih 30 menitan kalau jalan kaki, untungnya ada saung yang kosong dan kami semua berteduh disitu sambil istirahat. Iseng teman saya bertanya dek, apa benar di atas ada kuburan, kata siadek itu benar waktu dulu katanya ada pembunuhan di atas puncak sana, tapi kalau kuburan dia masih kurang tahu apa memang dikuburkan diatas sana atau hanya tanda batu saja bahwa pernah ada yang meninggal di atas gunung burangrang. 

Hujan reda kami memutuskan kembali saja ke basecamp dan tidak jadi ke air terjun karena cuacanya sudah menjelang sore mending pulang saja, setelah membersihkan di toilet kami ngobrol dengan penjaga basecampnya dan mereka memberi tahu ke saya bahwa pendaki yang sebelum rombonga kami mereka kembali lagi turun, katanya ada meong/macan gunung di tengah jalur ditakutkannya mencelakai diri mereka memutuskan kembali turun. Alhamdulillahnya kami tidak bertemu dengan binatang meong/macan tersebut.

NOTE : Sebelum melakukan perjalanan pendakian maupun saat menggunakan kendaraan, kita berdoa dulu kepada Allah SWT semoga diberi perlindungan dan kelancaran saat di perjalanan.

Sekian perjalanan menuju Puncak Gunung Burangrang, Terima Kasih :) 


Posting Komentar untuk "Cerita Mistik Pendakian Gunung ! | Menuju Puncak Gunung Burangrang Cisarua Kabupaten Bandung"